Monday, February 18, 2013

Pemkab Berau Luncurkan Festival Derawan

AppId is over the quota

TANJUNG REDEB, KOMPAS.com--Pemkab Berau akan meluncurkan  festival Derawan pada  15 Februari di Tanjung Redeb Kabupaten Berau meski Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak di Samarinda akhir 2012 lalu telah melakukan hal yang sama.

"Launcing festival berkelas internasional itu direncanakan Jumat (15/2) malam,  pekan ini. Acara  dipusatkan di Lapangan Pemuda Tanjung Redeb dan dimulai sekira pukul 20.00  Wita, " Kata Hj Rohaini Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Berau, Senin (11/2).

Pihaknya bersama panitia telah merancang seluruh rangkaian launcing  melibatkan stakeholder terkait.

"Yang pasti malam launcing itu juga menjadi malam hiburan bagi masyarakat Berau, jadi seluruh masyarakat diundang," ungkapnya.

Rohaini juga mengajak seluruh masyarakat untuk terus mempromosikan Festival Derawan. Bahkan untuk menyemarakkan festival ini, seluruh instansi baik pemerintah maupun swasta telah berlomba memasang spanduk maupun umbul-umbul berlogo Festival Derawan. "Kita ajak masyarakat untuk menyemarakkan festival ini," ucapnya.

Menurut Rohaini, dalam rangkaian kegiatan Festival Derawan,   pihaknya terus berkoordinasi dengan jajaran Pemprov Kaltim sebagai motor penggerak di even yang juga sudah teragenda di Sail Indonesia 2013.

Beberapa agenda kegiatan dikatakan Rohaini telah terprogram dan juga diselenggarakan di malam lacara launcing nanti. "Kita juga berkoordinasi dengan pemerintah pusat terkait rangkaian dan proses pelaksanaan agenda Festival Derawan," katanya.

Bimas Buddha Join Lestarikan Historic Site

JAKARTA, KOMPAS.com— Directorate General Buddhist Bimas a. Djoko Wuryanto admitted his side still has limited funds, but to preserve the historic heritage site of Majapahit and Srivijaya remains committed.

As routinely membersihakan site in question also serve as places of worship, because that part of history that is important to the people of Indonesia, he said when face to face with the reporters in Jakarta on Monday.

He explains, Buddhists in Indonesia around 8 million people and the number as much as it is scattered in various areas throughout Indonesia. Any infinite adherent among certain ethnic groups, such as China or Java. Also many in the rural areas with deficient means of places of worship.

Bimas Buddha does not have enough funds to rescue the various historic sites in Indonesia. To handle this, but there are other institutions to preserve sites associated with Buddhism it has great responsibility.

Only, limited to preserve and not do the excavation because of lack of funds.

Bimas Relief Fund for Buddhist houses of worship for thousands of $. Funding was of course very inadequate with houses of worship Buddha who attained widespread 3.441 in various monasteries 3.236 location, consisting of fruit and 205 temples.

He admitted many followers outside of Buddhism, such as an ethnic Chinese, has recorded the population sign card (ID CARD) of the Buddha. But the reality was a lot of religious ritual Konghuchu. It happened because a Vihara, shrines have three teachers: the Buddha, Taoist and Confucianism. Usually viharanya have the name Tri Dharma.

It does not matter. Buddhists easy set up and have a high tolerance, said Djoko Wuryanto.

He said, the presence of three teachers in such places of worship is a form of unification. Like the water sweet tea: there's water, there's no sugar and tea. All unified and have a distinctive flavour.

Offensive about the detention of Walubi Hartati Murdaya, Chairman, Djoko said, so far it does not disrupt the Buddhists. For all keumatan tasks that were previously handled Hartati Murdaya, now there are already dealing with.

In the near future will also be deploying Walubi National Congress (Congress) in order to choose a new leader.

About holding of Vesak falls on May 12, 2013, Director-General of the Buddha explains the Bimas, for the coming year is no longer owned by one mejelis Buddha interchangeably.

But the Committee is conducted simultaneously. That is, the National Committee and carried out at Borobudur and Mendut temples.

A few years ago, the Chairman of the Committee are usually held by Walubi Vesak or other Assembly. It is no longer carried out, he said.

For the Vesak not solely concentrated at Borobudur. In other places, such as Filigree (Candi Jiwa) and Muara Takus (Jambi) could have held similar celebrations. As in previous years, Vesak activities filled with social events in the form of free medical and social service, he said, explained.

Holis Raih Rekor MURI dengan Lumpur Lapindo

AppId is over the quota

SIDOARJO, KOMPAS.com--Pelukis Holis Satriawan meraih penghargaan Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) atas kreasi menggunakan media Lumpur Lapindo untuk kategori melukis terbanyak 100 kanvas dalam waktu sembilan jam.

"Penciptaan rekor MURI itu sebagai bentuk kepedulian kami terhadap korban Lumpur Lapindo di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur," katanya di Sidoarjo, Selasa.

Ia mengemukakan, Lumpur Lapindo nantinya akan digunakan sebagai warna dasar dalam lukisan serta dipadu dengan cat warna lain.

"Tema yang saya usung kali ini adalah ekspresionis dengan tujuan seni budaya Indonesia bisa dikenal lebih luas lagi di masyarakat," katanya.

Rencananya, Maret mendatang, seratus lukisan yang dibuatnya akan dilelang dan hasilnya akan dipersembahkan untuk korban Lapindo dan juga untuk "bedah sekolah" di Jawa Timur.

Pada kesempatan yang sama, Senior Manajer MURI, Paulus Pangka, mengatakan, penciptaan rekor yang dilakukan kali ini merupakan yang ke-5819.

"Dengan adanya pemecahan rekor ini diharapkan para seniman dan juga masyarakat lain bisa berlomba-lomba untuk meningkatkan kemampuannya yang unik untuk diketahui oleh masyarakat luas," katanya.

Ia mengatakan, untuk melukis dengan media Lumpur Lapindo di atas kanvas dengan jumlah seratus buah memang masih belum ada.

Dalam pemecahan rekor itu sendiri, Haris membutuhkan waktu sekitar dua sampai dengan empat menit untuk membuat satu lukisan.

Sunday, February 17, 2013

Foto Subak di UNESCO Tak Representatif

DENPASAR, KOMPAS.com— Observer of Balinese tourism Prof I Nyoman Darma Putra assess photos of subak on site does not portray representative ENESCO traditional farming system typical of the island of the gods.

"UNESCO has set the subak as WBD (World Heritage), but very unfortunate photos of illustrations on the site so far from the standard of photography," said Professor of Udayana University Denpasar (of Udayana University), Tuesday.

According to him, six photos in the photo gallery site of subak UNESCO (http://whc.unesco.org/en/list/1194/gallery/) not able to represent the beauty and uniqueness of subak on the island of the gods.

"Many who wonder why UNESCO as international institutions does not attempt to put up a photo with international standards," said the author of "Tourism Development and Terrorism in Bali".

Compare photos of the world's cultural heritage in other countries which recognized by UNESCO, the photos in the water the island of gods including the lowest quality.

"Photographs of the natural heritage of Komodo island and Borobudur Temple is quite beautiful and representative," said Darma Putra.

Landscape and water control system in Bali is recognized UNESCO as WBD in mid-2012 with the official name of the "Cultural Landscape of Bali Province: the Subak System as Manifestation of the Tri Hita Karana Philosophy".

Darma Putra added that in addition to preservation, the determination of a legacy to the world cultural heritage is to enhance it as a tourist attraction.

But since the photos that were posted on the official site of UNESCO, that goal is less less accomplished for the landscape and heritage of Bali subak system.

"Anyone who saw the pictures on the web of Bali subak UNESCO would not be lured to see and visit," said Darma Putra.

Therefore, He suggested that the photos on the website of the UNESCO-Bali subak can be replaced with a more international-standard photo to rice fields is a beautiful and unique rituals could be reflected in it.

"Indonesia or Bali has many photographers and they have a lot of photo collection a beautiful cascading rice terraces can be used as an illustration of the UNESCO web so more beautiful," he said.

Kaligrafi China untuk Indonesia

AppId is over the quota
Cornelius Helmy

Bakat seni Tjutju Widjaja (71) awalnya hanya digunakan untuk menjalankan usaha pembuatan kaca patri dan kerajinan kaca lain. Pertemuannya dengan seniman kaligrafi China di Bandung membuat dia turut mengharumkan Indonesia di dunia internasional.

Lewat kaligrafi saya bangga bisa membuat Indonesia bersanding dengan 25 negara peserta kompetisi kaligrafi internasional World Expo Shanghai di China tahun 2010,” kata Tjutju.

Untuk Expo Shanghai 2010, ia mengirimkan tulisan kaligrafi Zheng Qi yang artinya ’jiwa sportif’. Ia ingin tulisan kaligrafinya menyebarkan semangat saling menghargai antarmanusia di dunia. Ide itu diambil dari kehidupannya sehari-hari.

Awalnya Tjutju tak berharap memenangi lomba itu. Ia sudah bangga goresan tinta mo di atas kertas sian che itu dipamerkan bersama 7.463 kaligrafi karya ribuan seniman kaligrafi dari sejumlah negara. Namun, kabar yang diterima dari panitia penyelenggara sungguh mengejutkan. Tjutju menjadi juara kedua.

”Kemenangan itu untuk masyarakat Indonesia. Meski identik dengan kesenian masyarakat Tionghoa, saya yakin kaligrafi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari Indonesia,” ujarnya.

Kaligrafi China adalah salah satu seni berusia ribuan tahun yang bertahan hingga kini. Penyebarannya tak hanya di China daratan, tetapi juga diaplikasikan etnis Tionghoa di banyak negara. Sama seperti kaligrafi Arab dan Jepang, kaligrafi China menampilkan keindahan dan pesan positif bagi pembuat dan penikmatnya.

Lulusan terbaik

Tjutju kecil tak terbilang anak yang pandai melukis di kelas. Ia ingat, dia selalu menangis saat diminta guru memperlihatkan hasil karyanya. Ia malu karena merasa gambarnya adalah yang terburuk di kelas. Beberapa orang pernah mengatakan ia berbakat melukis, tetapi ia tak percaya.

”Pernah garis tangan saya dibaca salah seorang teman ayah. Ia berkata bahwa saya punya bakat melukis. Namun, saya tak percaya,” cerita Tjutju.

Kalau dia kemudian terjun ke dunia seni, sebenarnya dilatarbelakangi keinginan mengembangkan usaha seni kaca patri miliknya. Ia berharap mendapatkan banyak informasi mengenai ide dan desain kaca patri.

”Saya masuk Fakultas Seni dan Desain Universitas Kristen Maranatha, Bandung, delapan tahun lalu. Saat itu saya berusia 62 tahun alias mahasiswa tertua di Maranatha. Saya cuek saja karena tujuannya mau belajar,” katanya.

Awalnya, Tjutju kesulitan mengikuti materi kuliah. Bahkan, untuk membuat lingkaran saja, ia bingung memulainya dari mana dan menentukan besaran antarlingkaran. Namun, semangatnya tak surut.

Perlahan, ia bisa bersaing dengan mahasiswa yang jauh lebih muda. Beberapa mahasiswa heran mengapa Tjutju bisa mendapatkan nilai terbaik pada setiap mata kuliah. Sekitar empat tahun kemudian, ia lulus dengan predikat lulusan terbaik.

”Masih ingin berkembang, saya melanjutkan studi ke program strata dua ITB (Institut Teknologi Bandung) Jurusan Seni Murni. Saya masuk waktu berumur 67 tahun dan lulus dua tahun kemudian. Pemahaman literatur saya semakin bertambah.”

Kesehatan

Perkenalannya dengan kaligrafi juga terjadi tanpa sengaja pada 2003. Saat mengantarkan seorang kerabat ke sanggar seni milik pelukis asal Bandung, Tjiang Yu Tie (almahum), Tjutju tertarik mengetahui cara pembuatannya.

Sebagai keturunan Tionghoa, kaligrafi tak asing baginya. Namun, ia tak paham bagaimana proses pembuatan dan nilai yang terkandung di dalamnya. Di bawah bimbingan Tjiang Yu Tie, ia mendapat banyak pengetahuan tentang kaligrafi yang sebelumnya tak dia ketahui.

Selain bakat seni, membuat kaligrafi juga membutuhkan emosi yang stabil. Jika dilakukan saat emosi kita meledak-ledak, bisa dipastikan kaligrafi itu tak akan sempurna. Menurut Tjutju, kontrol emosi terkait erat dengan teknik pengaturan napas. Ada kalanya seniman kaligrafi harus menahan napas dalam-dalam guna membuat satu garis panjang.

”Pengaturan napas ini menyehatkan. Jangan heran kalau banyak seniman kaligrafi usianya panjang. Di Bandung, ada seniman yang masih menekuni kaligrafi pada usia 98 tahun. Badannya sehat dan bugar,” ujarnya.

Kaligrafi juga ampuh memberikan semangat positif bagi pembuat dan penikmatnya. Alasan dia, tulisan kaligrafi selalu berujar tentang hal baik dan memompa semangat orang. Kaligrafi umumnya berisi petuah atau diambil dari lirik sajak yang indah.

”Tak pernah ada tulisan kaligrafi China yang isinya menjelek-jelekkan atau menghina orang lain,” ungkapnya.

Semangat

Tak lama setelah menyabet juara kedua di Shanghai, nama Tjutju sempat menghilang. Tak muncul lagi kaligrafi buatannya. Latihan menulis kata-kata mutiara setiap pagi yang biasa dia lakukan tak lagi dikerjakannya. Telepon genggam pun sering ia matikan.

Saat itu, perhatian Tjutju dicurahkan sepenuhnya untuk Eddy Rahardjo, anak ketiganya yang sakit keras. Menurut dia, tidak ada yang lebih penting ketimbang keluarganya. Ia mengaku semakin terpuruk saat Eddy meninggal dunia.

”Sempat saya tidak punya semangat untuk berkesenian. Sampai saya ingat pesan Eddy, dia pernah mengatakan, dia bangga dengan prestasi saya lewat kaligrafi dan melukis. Eddy ingin agar saya terus menekuni bidang kesenian yang memang saya senangi. Mengingat itu, saya menjadi kuat lagi,” cerita Tjutju yang juga Ketua Pelaksana Seni Kaligrafi dan Lukis Zhonghua Indonesia.

Kini, menginjak usia 71 tahun, semangat Tjutju terbukti masih tangguh. Ia tercatat sebagai dosen pada Sekolah Tinggi Seni Indonesia. Dia mengajar mata kuliah Sejarah Seni Asia.

Tjutju juga menerima tanggung jawab sebagai Direktur Galeri Maranatha, sekaligus mengajar pada Fakultas Seni Rupa dan Desain Maranatha Bandung.

Ia juga aktif dalam kegiatan kemasyarakatan dan budaya Tionghoa. Tjutju tercatat sebagai Wakil Ketua Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Cabang Jawa Barat. Dia juga menjadi Wakil Ketua Perhimpunan Penulis Mandarin Cabang Bandung.

”Saya juga mengelola Galeri Sejarah Tionghoa di Situ Aksan, Bandung. Isinya tentang peninggalan sejarah dan data warga Indonesia keturunan Tionghoa yang berperan besar membangun Indonesia. Sesuai keinginan ayah saya, kami harus menjadi bagian dan berbakti pada negeri tercinta ini,” kata Tjutju.